Skip to main content

Belajar Dari 8 Potong Pisang Goreng

Aku seharian ini menemukan begitu banyak keajaiban. Salah satu yang terbesar justru keajaiban menemukan pisang goreng di pagi hari.

Bangun jam 6 pagi tadi aku harus sudah berkutat lagi dengan tulisan yang belum kelar; mengenai gender. Baca dikit, tulis banyak, nguap, nulis lagi, ketiduran 5 menitan, bangun dan mencoba konsentrasi nulis lagi hahaha...ajaib.

Jam 7 mandi dan bergegas ke rumah narasumber yang letakya di ujung bumi. Jauhhh banget dah. Persoalan dimulai dengan permintaan simpel yang kuiyakan tanpa mikir dari si narasumber.

"Ntar aku buatin kopi yah. Kamu bawa pisang goreng biar klop."
Lantas mulutku langsung aja mengiyakan. Mulailah problem itu.

Persoalannya sodara-sodara, sulit menemukan pisang goreng di pagi hari. Nggak tahu kenapa. Yang ada hanya lontong, mie balap, bakwan dan perkedel. Sepanjang jalan celangak celengok nyariin namun ga dapet juga.

Tapi hatiku ini lho...kok rasanya mantap aja tetap melaju dengan kecepatan tinggi ke rumah narasumber dengan satu keyakinan bahwa entah bagaimana akhirnya aku mendapatkan pisang goreng itu.

Tapi begitulah. Bagai penjajah kejam, aku membantai hatiku dengan logika. Daripada nggak dapat pisang goreng, yah beli saja lontong dan bakwan.

Nyatanya sodara-sodara, benaran saja. Jelang hampir dekat dengan rumah si narasumber, eh waktu aku nanya arah, nggak sengaja (atau disengajakan Tuhan???) aku melihat si bapak tempat aku bertanya- 15 derajat ke kanannya ada gorengan pisang dan ubi jalar.

Mataku berbinar dan segera memborong pisang dan ubi jalar goreng itu (takut didahului orang lain hihihi).

"Pak ini pisang gorengnya,"kataku pada si narasumber.
"Ti.." teriak si bapak pada pembantunya, "Tolong buatkan kopi yang enak buat si Vita. Dia ini penikmat kopi,"

Aku ketawa ngakak dan dia juga.

Dua jam ngobrol, coba tebak berapa pisang goreng yang dihabiskan bapak itu? Alamak, cuma setengah saja. Sedangkan aku ? Sumpe, aku pengen ambil piring di dapurnya dan makan lontong hahaha...

Tapi bagiku, pelajaran terpentingnya adalah bagaimana pisang goreng mengajarkanku tentang bagaimana tetap berharap meski tidak ada ada dasar untuk berharap. Bagaimana untuk tetap percaya kepada DIA apapun yang terjadi.

Pisang goreng itu bagiku keajaiban besar untuk mimpi besarku.

Terima kasih pak..bukan hanya untuk wawancaranya tapi juga untuk pelajaran tentang pisang goreng.

Comments

Popular posts from this blog

Tipe Orang yang Posting Story WA

Buat status di whatsapp itu seperti bumerang. Ditulis serius, audiens menanggapi dengan candaan, Dibuat hanya sekedar candaan, eh ditarik too serious. Jatuhnya jadi hilarious ya kan Padahal status wa-ku hanya untuk kalangan terbatas saja, itupun masih disalaharti. Makanya itu menulis wa tidak terlalu menarik karena seperti ada kewajiban membalas pertanyaan orang-orang tentang status yg diposting. Kalaupun dijelaskan, belum tentu terima. Akhinya jadi perdebatan. Kalau tak nulis,  ditanya apa sudah dihide status wa dari  dia hahaha... Bgitulah lika liku per-online-nan ini.  Tipe  orang yang posting story wa itu kan bermacam-macam 1. Yang seperti wartawan online..Apa yang dilihatnya, dilakukannya  itu yang diposting 2. Yang hanya lagi pengen saja. Lagi cocok dirasanya yang dia jumpa video atau tulisan orang lain di medsos, yah dicomot jadi story wa sendiri. Intinya ga selalu tentang yang terjadi in real time 3. Yang suka cek ombak. Ini tipe orang yang pengen tahu s...

Bimbel Starla

Aku buka bimbingan belajar semester ini. Iyah! Buka les kecil-kecilan buat anak PAUD, TK dan SD kelas 1- 6.  Setelah tertunda setahun lamanya, aku memutuskannya untuk mulai. Dan suami entah gimana ceritanya diam saja dan malah ikut buatin iklan bimbelku pakai Canva. Aku happy karena berarti izin sudah turun 😉 Ini bentukannya... Double happy malah karena yang daftar lumayan rame. Ada 4 siswa yang daftar hahaha. Yah ramelah untuk ukuran yang iklannya hanya kuposting di status wa pribadi saja. Malah ada yang ngomong begini, " Kenapalah baru buka sekarang"  Ini bukan pertanyaan ya melainkan pernyataan karena memang sudah lama ditunggu tapi ga pernah diujudkan, Ditunggu karena memang aku sebakat itu ngajar hahahaa... Itu kata mereka ya. Jadi izinkanlah aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku karena sekali lagi,  Dia membuat jalanku terbuka menjadi berkat bagi banyak orang.. Wish me luck fellas 😉

Angkat wajahmu nak!

Pulang sekolah anakku cerita ttg guru yang mengejeknya depan kelas. Aku yang mendengar ngumpat dalam hati karena guru yang itu lagi yang melakukannya. Bukan sekali ini saja guru ybs melakukannya.  Dia juga kerap melakukannya terhadap siswa lainnya, Dan tiap kali anakku cerita, tahun ajaran berikutnya siswa tersebut pasti pindah sekolah.  Awal dulu masih saja kubilang guru tersebut mungkin punya masalah di rumah dan mungkin juga karena mereka (siswa-siswa tsb) memang keterlaluan ributnya " Namanya manusia nak. Mungkin gurumu lelah."  Tapi karena sudah berulang kali dan bertahun, akhirnya aku berkesimpulan memang itulah karakter si guru. Jadi alih-alih menghubungi si guru karena sudah merendahkan anakku secara sepihak, maka aku berusaha menguatkan hatinya.  "Kau marah?" "Iya Mak." "Kau sedih juga?" "Iya Mak." "Lebih banyak marah atau sedihnya?" "Sedih saja Mak." Lantas kubilang hanya satu cara membalasnya yakni dengan ...