Tadi malam aku jalan bareng suami dan anak-anak karena ini adalah malam terakhir libur sekolah. Waktu masuk entrance mall suasana ramai banget, Padahal kita kira sepi karena baru hari Minggu kemarin ada pengunjung mall yang jatuh dari lantai 4. Ga jelas jatuh kenapa dan siapa yang terjatuh. Di mobil sempat terjadi perdebatan apakah korban bunuh diri atau memang jatuh karena sesuatu hal. Lumayan seru juga sampai kemudian aku merasa bersalah kenapa empati kami sebagai manusia hilang ketika membicarakan hal itu. Something missing here. Jadi ketika masuk dan kita melangkah menuju arena permainan. Aku malah. " Disitu dia jatuh," Kepalaku masih penuh dengan pertanyaan kenapa? Apa yang terjadi sesungguhnya? Dan memang ternyata hanya aku saja yang masih memikirkan hal itu karena kalimat berikutnya membuatku tersadar, "Disitu Utopianya?" kata si bungsu sambil melihat ke arah yang kutunjuk. Ah....Ternyata aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sementara kami tetap berjalan ke a...
Perjalanan ini memang menyusahkan, membuat pedih hati dan semangat yang patah. Setelah menangis dalam keterpurukan, aku memutuskan untuk melakukan sesuatu yang kusebut jaga-jaga. Jaga-jaga jika hatiku berubah, Jaga-jaga jika aku memang harus mengalah dan melakukannya, Seperti jaga-jaga lainnya, kadang eh sering sekali aku memang harus menyingkirkan egoku dan melakukan yang tidak kukehendaki hanya karena supaya diterima, tidak dipersulit dan harapan terbesar dimudahkan untuk bisa mendapatkan pertolongan di kemudian hari. Itulah ciri khas anak tunggal. Approval dari orang lain adalah hal yang memang harus dilakukan senatural mungkin. Jadi belanjalah aku hari ini ke pasar Petisah, Mencari sebuah atasan hitam yang bisa kupakai dalam acara adat mertua angkatku. Anakku yang kecil menyebutnya sebagai lorong tanpa batas. " Ini infinity market mak. Kayak backroom dan aku suka. " "Lorong yang panjang ini membuat mamak sesak, " kataku. Mungkin dadaku yang sesak. Karena aku s...