Skip to main content

Hidup Manusia Sama Seperti Uap

Tadi malam aku jalan bareng suami dan anak-anak karena ini adalah malam terakhir libur sekolah. Waktu masuk entrance mall suasana ramai banget, Padahal kita kira sepi karena baru hari Minggu kemarin ada pengunjung mall yang jatuh dari lantai 4. Ga jelas jatuh kenapa dan siapa yang terjatuh.

Di mobil sempat terjadi perdebatan apakah korban bunuh diri atau memang jatuh karena sesuatu hal. Lumayan seru juga sampai kemudian aku merasa bersalah kenapa empati kami sebagai manusia hilang ketika membicarakan hal itu. Something missing here.

Jadi ketika masuk dan kita melangkah menuju arena permainan. Aku malah. " Disitu dia jatuh," Kepalaku masih penuh dengan pertanyaan kenapa? Apa yang terjadi sesungguhnya? Dan memang ternyata hanya aku saja yang masih memikirkan hal itu karena kalimat berikutnya membuatku tersadar, "Disitu Utopianya?" kata si bungsu sambil melihat ke arah yang kutunjuk. 

Ah....Ternyata aku sibuk dengan pikiranku sendiri. Sementara kami tetap berjalan ke arena permainan; aku masih melihat lokasi tempat korban terjatuh. Dari video amatir yang kulihat di Ig, aku bisa memperkirakan letaknya karena semua yang ada di lokasi tersebut tidak mengalami perubahan. Hanya jasad yang jatuh saja yang tidak lagi kesana. Kemeja-kemeja yang disale masih tergantung rapi, sepatu-sepatu, gamis  masih di posisi yang sama.

 Ah..mengapa seperti tidak terjadi apapun disana. Padahal sebuah kehidupan - baru saja berakhir menggenaskan disana.  Jadi teringat Friman Tuhan yang mengatakan" Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4: 14)

 Jadi ketika aku memikirkannya lebih dalam; aku juga bertanya-tanya untuk apa semua ini. Untuk apa segala pembuktian diri ini. Untuk apa menangis, marah, bersikap angkuh dan seterusnya;  jika pada akhirnya kita hanyalah uap yang sebentar ada lalu lenyap. Kenapa penting harus membahas segala sesuatunya. Harusnya kita menghabiskan hari-hari seperti rumput liar di padang;  yang tetap tumbuh cantik tanpa perlu usaha. 

 Tuhan itu baik tapi jika hidup manusia hanyalah uap; alangkah mengesalkannya menjadi manusia 💔

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Tipe Orang yang Posting Story WA

Buat status di whatsapp itu seperti bumerang. Ditulis serius, audiens menanggapi dengan candaan, Dibuat hanya sekedar candaan, eh ditarik too serious. Jatuhnya jadi hilarious ya kan Padahal status wa-ku hanya untuk kalangan terbatas saja, itupun masih disalaharti. Makanya itu menulis wa tidak terlalu menarik karena seperti ada kewajiban membalas pertanyaan orang-orang tentang status yg diposting. Kalaupun dijelaskan, belum tentu terima. Akhinya jadi perdebatan. Kalau tak nulis,  ditanya apa sudah dihide status wa dari  dia hahaha... Bgitulah lika liku per-online-nan ini.  Tipe  orang yang posting story wa itu kan bermacam-macam 1. Yang seperti wartawan online..Apa yang dilihatnya, dilakukannya  itu yang diposting 2. Yang hanya lagi pengen saja. Lagi cocok dirasanya yang dia jumpa video atau tulisan orang lain di medsos, yah dicomot jadi story wa sendiri. Intinya ga selalu tentang yang terjadi in real time 3. Yang suka cek ombak. Ini tipe orang yang pengen tahu s...

Bimbel Starla

Aku buka bimbingan belajar semester ini. Iyah! Buka les kecil-kecilan buat anak PAUD, TK dan SD kelas 1- 6.  Setelah tertunda setahun lamanya, aku memutuskannya untuk mulai. Dan suami entah gimana ceritanya diam saja dan malah ikut buatin iklan bimbelku pakai Canva. Aku happy karena berarti izin sudah turun 😉 Ini bentukannya... Double happy malah karena yang daftar lumayan rame. Ada 4 siswa yang daftar hahaha. Yah ramelah untuk ukuran yang iklannya hanya kuposting di status wa pribadi saja. Malah ada yang ngomong begini, " Kenapalah baru buka sekarang"  Ini bukan pertanyaan ya melainkan pernyataan karena memang sudah lama ditunggu tapi ga pernah diujudkan, Ditunggu karena memang aku sebakat itu ngajar hahahaa... Itu kata mereka ya. Jadi izinkanlah aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku karena sekali lagi,  Dia membuat jalanku terbuka menjadi berkat bagi banyak orang.. Wish me luck fellas 😉

Angkat wajahmu nak!

Pulang sekolah anakku cerita ttg guru yang mengejeknya depan kelas. Aku yang mendengar ngumpat dalam hati karena guru yang itu lagi yang melakukannya. Bukan sekali ini saja guru ybs melakukannya.  Dia juga kerap melakukannya terhadap siswa lainnya, Dan tiap kali anakku cerita, tahun ajaran berikutnya siswa tersebut pasti pindah sekolah.  Awal dulu masih saja kubilang guru tersebut mungkin punya masalah di rumah dan mungkin juga karena mereka (siswa-siswa tsb) memang keterlaluan ributnya " Namanya manusia nak. Mungkin gurumu lelah."  Tapi karena sudah berulang kali dan bertahun, akhirnya aku berkesimpulan memang itulah karakter si guru. Jadi alih-alih menghubungi si guru karena sudah merendahkan anakku secara sepihak, maka aku berusaha menguatkan hatinya.  "Kau marah?" "Iya Mak." "Kau sedih juga?" "Iya Mak." "Lebih banyak marah atau sedihnya?" "Sedih saja Mak." Lantas kubilang hanya satu cara membalasnya yakni dengan ...