Skip to main content

kangen kamu

Ga mudah jadi kekasihnya.tapi juga ga sesulit yang seharusnya jika aku sedikit lagi mau bersabar dan belajar menerimanya.

bertengkar lagi. Dua kali dalam bulan ini. Berapa pulsa telpon yang kita habiskan untuk pertengkaran yang well...(gimana mau nikah sayang...jika terus2 an begini)

Kau dimana, aku dimana.

"bang, seru banget deh pertemuan tadi. Mau dengarin nggak?"
"tentu donk. gimana hasilnya?
"bla bla...bla...."
"kayaknya seru banget yah. Ntar kita ketemuan yah."
"tadi kan udah." protesku. siang memang kami ketemu. ketemu dia sekedar ngambil eh tepatnya minjem flash disknya. niatnya malemnya kerja lembur nyiapin artikel yang tertunda karena listrik padam.
"Yah adek...."suaranya terdengar jadi nggak semangat.
Aku ketawa ngakak. "Yah udah ketemuan deh. Jam berapa? dimana? "
"Ketemu di rumah kamu aja. Kamu dah mau pulang kan? Langsung pulang yah. Ntar aku nyusul."
"Yah udah.aku tunggu."
Klik!

dan baru jam 10 malem dia tanpa merasa bersalah bilang nggak jadi datang.

kamu dimana...aku dimana....kota ini terasa luas untuk kita bisa sedikit saja meluangkan waktu berdua.

hm, aku kangen kamu.sangat!

Comments

p kabar hun? dan pacarmu? pajang dong fotonya...
Novita Sianipar said…
pajang?????? kemarin aku malah ingin memperkenalkan dia secara langsung denganmu di bogor... tapi mungkin belum waktunya aja yah...

salam buat cicak2 di dinding :)

miss u hun

Popular posts from this blog

Tipe Orang yang Posting Story WA

Buat status di whatsapp itu seperti bumerang. Ditulis serius, audiens menanggapi dengan candaan, Dibuat hanya sekedar candaan, eh ditarik too serious. Jatuhnya jadi hilarious ya kan Padahal status wa-ku hanya untuk kalangan terbatas saja, itupun masih disalaharti. Makanya itu menulis wa tidak terlalu menarik karena seperti ada kewajiban membalas pertanyaan orang-orang tentang status yg diposting. Kalaupun dijelaskan, belum tentu terima. Akhinya jadi perdebatan. Kalau tak nulis,  ditanya apa sudah dihide status wa dari  dia hahaha... Bgitulah lika liku per-online-nan ini.  Tipe  orang yang posting story wa itu kan bermacam-macam 1. Yang seperti wartawan online..Apa yang dilihatnya, dilakukannya  itu yang diposting 2. Yang hanya lagi pengen saja. Lagi cocok dirasanya yang dia jumpa video atau tulisan orang lain di medsos, yah dicomot jadi story wa sendiri. Intinya ga selalu tentang yang terjadi in real time 3. Yang suka cek ombak. Ini tipe orang yang pengen tahu s...

Bimbel Starla

Aku buka bimbingan belajar semester ini. Iyah! Buka les kecil-kecilan buat anak PAUD, TK dan SD kelas 1- 6.  Setelah tertunda setahun lamanya, aku memutuskannya untuk mulai. Dan suami entah gimana ceritanya diam saja dan malah ikut buatin iklan bimbelku pakai Canva. Aku happy karena berarti izin sudah turun 😉 Ini bentukannya... Double happy malah karena yang daftar lumayan rame. Ada 4 siswa yang daftar hahaha. Yah ramelah untuk ukuran yang iklannya hanya kuposting di status wa pribadi saja. Malah ada yang ngomong begini, " Kenapalah baru buka sekarang"  Ini bukan pertanyaan ya melainkan pernyataan karena memang sudah lama ditunggu tapi ga pernah diujudkan, Ditunggu karena memang aku sebakat itu ngajar hahahaa... Itu kata mereka ya. Jadi izinkanlah aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku karena sekali lagi,  Dia membuat jalanku terbuka menjadi berkat bagi banyak orang.. Wish me luck fellas 😉

Angkat wajahmu nak!

Pulang sekolah anakku cerita ttg guru yang mengejeknya depan kelas. Aku yang mendengar ngumpat dalam hati karena guru yang itu lagi yang melakukannya. Bukan sekali ini saja guru ybs melakukannya.  Dia juga kerap melakukannya terhadap siswa lainnya, Dan tiap kali anakku cerita, tahun ajaran berikutnya siswa tersebut pasti pindah sekolah.  Awal dulu masih saja kubilang guru tersebut mungkin punya masalah di rumah dan mungkin juga karena mereka (siswa-siswa tsb) memang keterlaluan ributnya " Namanya manusia nak. Mungkin gurumu lelah."  Tapi karena sudah berulang kali dan bertahun, akhirnya aku berkesimpulan memang itulah karakter si guru. Jadi alih-alih menghubungi si guru karena sudah merendahkan anakku secara sepihak, maka aku berusaha menguatkan hatinya.  "Kau marah?" "Iya Mak." "Kau sedih juga?" "Iya Mak." "Lebih banyak marah atau sedihnya?" "Sedih saja Mak." Lantas kubilang hanya satu cara membalasnya yakni dengan ...