Skip to main content

rencana liburan

ga sampai sebulan lagi, aku akan melakukan salah satu impianku. sungguh mendebarkan. emang sih bukti izin cuti belon di tangan tapi sekretaris kantor berjanji seminggu sebelum bulan ini berakhir aku sudah mendapatkannya.

aku nyaris sukar bernapas waktu kak Hana bilang, menuju Bali aku bisa via KL naik Air Asia. ini lebih dari yang kuharapkan. thx God!

aku gila kali yah...bepergian sendirian dan menghabiskan seluruh tabunganku. well, itu yang orang katakan tentang rencanaku. tapi aku ga peduli. ini uangku, ini hidupku dan ini yang paling kumau. peduli apa???!!!

kakak Hana- orang yang paling sering kumintai pendapatnya di kantor bahkan hari ini secara spesial mendatangi biro travel wisata dan berjanji akan mengeset liburan yang menakjubkan dengan budget yang kupunya.

katanya di lombok aku bisa nginap di puri sharon-sebuah hotel bintang 3.. (kepaksa di hotel karna ga punya siapapun yang tinggal di pulau indah itu). kalo di Bali, aku punya kenalan orang Bali yang sekeluarga hidup dari nyeni. di Jogja, aku pasti tinggal ama Ibuku. di Jakarta ama Yosri- the best friend I ever had. nah yang di Bandung aku ga punya. well, nginap di hotel lagi.

apa yang kuharapkan dari perjalanan mahal ini ( yah, bagiku mahal lah) ???

aku dah bilangkan tadi... aku hanya ingin mengujudkan impianku. itu aja. sederhana kan. yah sesederhana diriku inilah :)

Comments

wah, jadi ya tgl 10 ketemu...
awas kalo engga :)

Popular posts from this blog

Tipe Orang yang Posting Story WA

Buat status di whatsapp itu seperti bumerang. Ditulis serius, audiens menanggapi dengan candaan, Dibuat hanya sekedar candaan, eh ditarik too serious. Jatuhnya jadi hilarious ya kan Padahal status wa-ku hanya untuk kalangan terbatas saja, itupun masih disalaharti. Makanya itu menulis wa tidak terlalu menarik karena seperti ada kewajiban membalas pertanyaan orang-orang tentang status yg diposting. Kalaupun dijelaskan, belum tentu terima. Akhinya jadi perdebatan. Kalau tak nulis,  ditanya apa sudah dihide status wa dari  dia hahaha... Bgitulah lika liku per-online-nan ini.  Tipe  orang yang posting story wa itu kan bermacam-macam 1. Yang seperti wartawan online..Apa yang dilihatnya, dilakukannya  itu yang diposting 2. Yang hanya lagi pengen saja. Lagi cocok dirasanya yang dia jumpa video atau tulisan orang lain di medsos, yah dicomot jadi story wa sendiri. Intinya ga selalu tentang yang terjadi in real time 3. Yang suka cek ombak. Ini tipe orang yang pengen tahu s...

Bimbel Starla

Aku buka bimbingan belajar semester ini. Iyah! Buka les kecil-kecilan buat anak PAUD, TK dan SD kelas 1- 6.  Setelah tertunda setahun lamanya, aku memutuskannya untuk mulai. Dan suami entah gimana ceritanya diam saja dan malah ikut buatin iklan bimbelku pakai Canva. Aku happy karena berarti izin sudah turun 😉 Ini bentukannya... Double happy malah karena yang daftar lumayan rame. Ada 4 siswa yang daftar hahaha. Yah ramelah untuk ukuran yang iklannya hanya kuposting di status wa pribadi saja. Malah ada yang ngomong begini, " Kenapalah baru buka sekarang"  Ini bukan pertanyaan ya melainkan pernyataan karena memang sudah lama ditunggu tapi ga pernah diujudkan, Ditunggu karena memang aku sebakat itu ngajar hahahaa... Itu kata mereka ya. Jadi izinkanlah aku mengucapkan syukur kepada Tuhanku karena sekali lagi,  Dia membuat jalanku terbuka menjadi berkat bagi banyak orang.. Wish me luck fellas 😉

Angkat wajahmu nak!

Pulang sekolah anakku cerita ttg guru yang mengejeknya depan kelas. Aku yang mendengar ngumpat dalam hati karena guru yang itu lagi yang melakukannya. Bukan sekali ini saja guru ybs melakukannya.  Dia juga kerap melakukannya terhadap siswa lainnya, Dan tiap kali anakku cerita, tahun ajaran berikutnya siswa tersebut pasti pindah sekolah.  Awal dulu masih saja kubilang guru tersebut mungkin punya masalah di rumah dan mungkin juga karena mereka (siswa-siswa tsb) memang keterlaluan ributnya " Namanya manusia nak. Mungkin gurumu lelah."  Tapi karena sudah berulang kali dan bertahun, akhirnya aku berkesimpulan memang itulah karakter si guru. Jadi alih-alih menghubungi si guru karena sudah merendahkan anakku secara sepihak, maka aku berusaha menguatkan hatinya.  "Kau marah?" "Iya Mak." "Kau sedih juga?" "Iya Mak." "Lebih banyak marah atau sedihnya?" "Sedih saja Mak." Lantas kubilang hanya satu cara membalasnya yakni dengan ...